Geographic Coordinate System (GCS), Projected Coordinate System (PCS), dan Georeferencing

Dalam GIS terdapat istilah GCS (Geographic Coordinate System) dan PCS (Projected Coordinate System) serta Georeferencing. Istilah-istilah tersebut akan dibahas dalam blog ini sebagai bentuk tugas I Praktikum Sistem Informasi Perencanaan

Geographic Coordinate System (GCS)

GCS biasanya disebut dengan datum dan datum adalah bagian dari GCS. Sebuah GCS menggunakan sistem koordinat bola untuk menunjukkan sebuah lokasi di permukaan bumi. GCS terdiri dari derajat sudut pengukuran, sebuah prime meridian, dan sebuah datum.

Sebuah titik direferensikan dengan garis lintang (latitude) dan garis bujur (longitude). Garis lintang dan garis bujur adalah sudut yang diukur dari pusat bumi ke permukaan bumi. Satuan ukur dari garis lintang dan garis bujur adalah derajat.

1

2

Gambaran Mengenai Garis Lintang dan Garis Bujur Terhadap Bumi

 3

Projected Coordinate System (PCS)

Sistem koordinat terproyeksi (projected coordinate system) adalah proyeksi peta pada bidang dua dimensi. Sistem koordinat terproyeksi (PCS) berbeda dengan GCS, sistem koordinat terproyeksi memiliki panjang, sudut, dan luas wilayah yang sama. Dalam sistem koordinat terproyeksi, lokasi diidentifikasikan sebagai koordinat (x, y) pada sebuah grid.

4

Sistem dalam Projected Coordinate System

5

Sistem Proyeksi Mercator

 6

Geo-Referencing

Georeferencing merupakan proses pemberian reference geografi dari objek berupa raster atau image yang belum mempunyai acuan sistem koordinat ke dalam sistem koordinat dan proyeksi tertentu. Proses ini diperlukan ketika akan melakukan input data berupa data raster (hasil scan) ke dalam SIG (ARCGIS).

A. Georeferencing menggunakan koordinat yang tercantum dalam peta analog

  • Buka Program Arc Map dari start menu > Program > ArcGis > ArcMap, atau buka Arc Catalog dan klik ikon
  • Untuk menampilkan peta yang akan diregistrasi pilih icon Add Data atau drag file peta tersebut lewat Arc Catalog menuju layer pada ArcMap.

7

Jika muncul peringatan Create Pyramid, kilik Yes untuk membangun resolusi data tersebut, atau No, jika ingin langsung memulainya.

  • Aktifkan Georeferencing pada toolbars dari View > Toolbar > Georeferencing, atau klik kanan pada tools bar, lalu cek Georeferencing.

8

  • Beri kordinat pada layer dengan cara klik kanan pada layer > Properties > Coordinate system. Pilih Predefined, lalu sesuaikan dengan kebutuhan. Untuk modul ini digunakan Geographic Coordinate System karena koordinat peta pada latihan berupa Degree Minute second. Jika koordinat memiliki satuan meter, pilih Projected Coordinate System > UTM > WGS 1984 > sesuaikan dengan zona wilayah.

9

  • Klik Add Control Point pada Georeferencing. X (hijau) merupakan source (koordinat gambar) dan X (merah) merupakan destination (koordinat sebenarnya).
  • Zoom pada gambar koordinat yang berpotongan untuk mempermudah pembuatan titik.
  • Klik kiri titik perpotongan > klik kanan > input DMS or Lon and Lat. Jika koordinat berupa Desimal Degree atau UTM, langsung pilih Input X and Y. Buat titik ikat minimal 4 titik ikat yang bersebrangan untuk mempermudah koreksi.

10

Titik ikat atau control point yang digunakan atau dibuat, minimal 4 titik pada sudut yang berbeda. Jika terdapat Residual yang terlalu besar, bisa mendeletenya dengan mengklik icon dan mengganti dengan control point baru yang lebih akurat. Untuk mengecek titik ikat / control point, buka link table pada Georeferencing tools.

11

Tapi, jika ingin nilai RMS Erorr lebih baik, perhatikan hal dibawah ini.

12

Karena prinsipnya ialah kita membuat X and Y source = X and Y map, maka perhatikan nilai source pada:

  • X pada link 1 dan 3
  • Y pada link 1 dan 2
  • X pada link 2 dan 4
  • Y pada link 3 dan 4

Bandingkan dengan link table sebelumnya. Dengan sedikit merubah angka-angka yang ada di X and Y source (menyamakan dengan menggeser titik atau mengedit angka tersebut langsung di dalam link table) sehingga nilai Total RMS Erorr menjadi lebih baik.

Atau dengan cara merubah pada box Transformation menjadi Adjust, maka dengan otomatis RMS Error akan berubah.

13

Jika telah selesai, simpan titik ikat tersebut Save.

  • Selanjutnya adalah proses rektifikasi, pilih Georeferencing -> Rectify. Pilih folder output dan atur nama filenya (format IMG).

14

  • Load peta hasil registrasi lewat icon Add Data atau drag file peta tersebut lewat Arc Catalog menuju layer pada ArcMap dan siap untuk proses lebih lanjut.
  1. B.  Berdasarkan Feature yang sudah ada memiliki sistem koordinat
  • Add data berupa peta analog dan data feature yang sudah memiliki sistem koordinat. Kondisi yang terjadi dalam layar ialah tidak terjadi tumpang tindih antara dua file tersebut, karena memang koordinatnya tidak sama.

15

Prinsinya ialah kita menarik peta analog menuju feature yang bentuknya sama sehingga peta analog tersebut memiliki koorinat yang sama dengan data/feature. Modul ini mengunakan peta analog Provinsi Nusa Tenggara Barat dan data/feature batas kabupaten Provinsi Nusa Tenggara Barat yang sudah memiliki sistem koordinat Geographic.

  • Klik Add Control Point pada Georeferencing. X (hijau) merupakan source (koordinat gambar/peta analog) dan X (merah) merupakan destination (koordinat sebenarnya/koordinat pada feature).
  • Pilih lokasi pada peta analog yang mudah dikenali pada 2 peta (analog dan feature/Arc) untuk dijadikan source X (hijau), lalu buat titik ikat di titik tersebut.
  • Zoom to layer pada feature yang berada pada layer.
  • Cari lokasi yang sama dengan titik ikat source X (hijau).
  • Buat titik ikat X (merah)/destination pada peta/data feature di titik tersebut.

16

17

X Source

X Destination

  • Lakukan pembuatan X (hijau) source dan X (merah) destination untuk titik-titik lainnya.
  • Perhatikan link table untuk mengetahui keadaan serta mengontrol titik-titik ikat.

18

Garis hitam tebal merupakan file berupa feature yang digunakan sebagai acuan, sedangkan gambar yang berwarna merupakan peta analog yang sudah mengikuti koordinat pada data feature.

  • Selanjutnya proses rectify sama seperti pada Bagian A.

basic georeferencing here

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun Spatial Database Analysis Facilities (SDAF). 2013. Laboratorium Analisis Lingkungan Dan Permodelan Spasial Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Handayani, Tuti. dkk. 2013. Modul Praktikum Mahasiswa Membuat Peta Dijital dengan ArcView GIS 3.x. Departemen Geografi FMIPA UI

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s